Pembangunan Masjid Raya Baitul Khairat: Proyek Lintas Kepemimpinan dengan Filosofi Al-Qur’an

AyoTau, Palu Pembangunan Masjid Raya Baitul Khairat di Kota Palu menjadi salah satu proyek monumental yang melintasi tiga masa kepemimpinan Gubernur Sulawesi Tengah. Proyek ini dimulai dari perencanaan oleh Longki Djanggola, dilanjutkan oleh Rusdi Mastura, dan kini diteruskan hingga tahap pengelolaan oleh Anwar Hafid.

Masjid Raya Baitul Khairat awalnya merupakan tindak lanjut dari kerusakan Masjid Agung Darussalam akibat bencana tahun 2018. Gubernur Longki Djanggola menginisiasi sayembara desain masjid dan penyusunan dokumen perencanaan (DED) pada tahun 2021. Tahap pembangunan fisik dimulai dengan groundbreaking pada 23 Oktober 2023 oleh Gubernur Rusdi Mastura, sekaligus meresmikan perubahan nama menjadi Masjid Raya Baitul Khairat.

Kini di era Gubernur Anwar Hafid, proyek ini memasuki tahap akhir, termasuk pembentukan kelembagaan pengelolaan dan pemanfaatan masjid untuk mendukung kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat.

Menurut Kepala Dinas Cikasda, Dr. Andi Ruly Djanggola, filosofi desain Masjid Raya Baitul Khairat sarat makna keislaman. Kubah berdiameter 90 meter dan jam analog 19,3 meter dirancang dengan filosofi angka 9, yang merujuk pada surat ke-9 dalam Al-Qur’an, yaitu At-Taubah (Pengampunan).

“Filosofi angka 9 menggambarkan bahwa Masjid Baitul Khairat adalah rumah kebaikan untuk memohon ampunan Allah dan memohon keberkahan bagi masyarakat Palu dan Sulawesi Tengah,” ujar Andi Ruly.

Masjid ini bukan sekadar simbol kebanggaan arsitektur, tetapi juga lambang solidaritas lintas kepemimpinan dan keteguhan spiritual masyarakat Sulteng pasca-bencana. (win)