AyoTau, Australia – Kain tenun khas Donggala, Buya Subi, menjadi sorotan dalam ajang Eco Fashion Showcase Buya Subi yang digelar oleh KJRI Perth bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan Eco Fashion Week Australia di Museum Australia Barat, Boola Bardip, Perth, pada 17 April 2026.
Ajang ini menjadi panggung promosi budaya sekaligus kampanye fashion berkelanjutan yang memperkenalkan kekayaan warisan tekstil Sulawesi Tengah kepada publik internasional. Sebanyak 22 karya desainer Australia ditampilkan dengan memanfaatkan kain tenun Buya Subi yang dipadukan dengan berbagai material ramah lingkungan, menghasilkan karya yang modern, kreatif, dan tetap berakar pada nilai tradisi.
Peragaan busana tersebut tidak hanya menonjolkan keindahan visual, tetapi juga mengangkat pesan penting tentang keberlanjutan lingkungan. Setiap karya mencerminkan komitmen terhadap praktik fashion yang bertanggung jawab, mulai dari penggunaan bahan alami hingga proses produksi yang memperhatikan aspek sosial dan lingkungan.
Konsul Jenderal Republik Indonesia di Perth, Irvan Buchari, dalam sambutannya menegaskan bahwa masa depan industri mode global berada pada titik temu antara estetika dan keberlanjutan.
“Keberlanjutan tidak hanya akan indah untuk dipandang secara fisik, namun juga terbukti membawa dampak nyata bagi ekosistem dan kehidupan sosial masyarakat kita,” ujarnya.
Menurutnya, promosi kain tradisional Indonesia melalui pendekatan fashion berkelanjutan menjadi bagian dari diplomasi budaya yang mampu memperkuat citra Indonesia di mata dunia.
Buya Subi sendiri dikenal sebagai kain tenun tradisional yang diproduksi dengan prinsip ramah lingkungan. Pewarna alami yang berasal dari tanaman lokal, proses produksi minim limbah, serta keterlibatan perempuan sebagai pelaku utama dalam kegiatan menenun menjadi nilai tambah yang menjadikan kain ini relevan dengan tren sustainable fashion global.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah, Dra. Diah Agustiningsih, M.Pd., menjelaskan bahwa promosi Buya Subi tidak sekadar memperkenalkan produk tekstil, tetapi juga membawa kisah budaya, tradisi, dan kehidupan para penenun yang menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Sulawesi Tengah.
“Buya Subi bukan hanya selembar kain, tetapi juga representasi budaya, kreativitas, dan nilai-nilai keberlanjutan yang diwariskan dari generasi ke generasi,” ungkapnya.
Antusiasme tinggi terlihat dari para tamu yang hadir, mulai dari kalangan desainer, diplomat, pegiat industri kreatif hingga media Australia. Mereka memberikan apresiasi atas keberhasilan para desainer dalam mengolah kain tradisional Indonesia menjadi karya fashion kontemporer yang memiliki daya saing global.
Pendiri dan CEO Eco Fashion Week Australia, Zuhan Mills, turut menyoroti pentingnya transformasi industri mode dunia dari pola fast fashion menuju praktik yang lebih etis dan berkelanjutan. Ia menilai Buya Subi merupakan contoh nyata bagaimana warisan budaya lokal dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan industri fashion masa depan.
Rangkaian promosi Buya Subi akan berlanjut ke Canberra dan Vancouver sebelum mencapai puncaknya pada gelaran Eco Fashion Week Australia 2026 di Perth pada Oktober mendatang. Melalui inisiatif ini, Sulawesi Tengah semakin memperkuat posisinya dalam memperkenalkan produk budaya unggulan sekaligus mendukung gerakan fashion berkelanjutan di tingkat global. (*)













