oleh

Mahasiswa Diharap Jadi Agen Toleransi di Tengah Masyarakat

Ayotau, Palu- Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Ham (Kemenkumham) Provinsi Sulawesi Tengah, menggelar Forum Kebangsaan Mahasiswa dan Pelajar, dalam rangka Hari Dharma Karya Dhika, di Aula Kemenkumhan Sulteng, Rabu, 6 Oktober 2021.

Kepala Kanwil Kemenkumham Sulteng, Lilik Sujandi mengatakan, melalui forum kebangsaan ini, para mahasiswa ataupun pelajar, diminta agar menjadi agen toleransi, pemberdayaan masyarakat, serta mereka dirancang menjadi penyuluh hukum dari kelompok generasi muda.

“Olehnya itu para pelajar ini akan membangun semacam diskusi, tetang pemberdayaan masyarakat dan pengembangan toleransi, agar mereka dapat menyusun rencana aksi, sehingga mereka dapat menjadi agen-agen perubahan melalui penyuluhan hukum serta toleransi,” ujar Lilik.

Menurut Lilik, sementara ini pihaknya minta fasilitasi dari Korem, karena dari pihak TNI ini memiliki kapasitas untuk diskusi tentang kebangsaan. “Namun kami akan diskusikan lagi lebih ke global, karena saat ini tantangan kita lebih luas lagi hingga ke global,” ungkapnya.

Lilik mengharapkan, pengembangan layanan hukum tidak bisa semata-mata dilakukan secara formal oleh Kemenkumham, tetapi harus mengerakan masyarakat utamanya yang memiliki pemberdayaan sehingga bisa menjadi agen.

“Kita rancang mereka bisa bergerak di masyarakatnya atau dalam lingkunganya, mereka diharap dapat bergerak dalam lingkungan kemahasiswaanya, sehingga lebih efektif. Inilah generasi yang haru kita selamatkan, jangan sampai terjerumus ke narkoba, kemudian masuk di kasus radikal dan lainya. Maka siapa yang menjadi agen perubahanya tentunya mereka sendiri,” jelasnya.

Kata Lilik, kegiatan ini merupakan ide dari isu-isu penting, agar harus menjaga kebhinekaan dengan jiwa toleransi, menghargai sesama pemeluk antar suku dan lainya.

Sementara itu, Pasikomsos Korem 132 Tadulako, Mayor Inf Mansur Labukang mengatakan, tentunya dari pihak TNI itu tentunya memberikan pemahaman bahwa bangsa ini memang terdiri dari hal yang berbeda, tetapi jangan perbedaan itu menjadi suatu jurang, namun jadi suatu kebersamaan.

“Sehingga bangsa kita menjadi bangsa besar, yang mempunyai legalitas yang diakui oleh dunia. Hanya negara Indonesia itu yang dapat memberikan contoh berbeda-beda tetapi tujuanya satu, negara kesatuan Republik Indonesia,” ungkapnya.

Kata dia, di kegiatan ini materi yang disampaikan tentang dalam membangun kebangsaan, jangan sampai mudah disusupi oleh pola pikir yang dapat merusak dari pada persatuan dan kesehatan bangsa  Indonesia. (AH/*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.