Dinas Kominfo Terus Tingkatkan Indeks SPBE di Provinsi Sulteng

Ayotau, Palu- Dinas Komunikasi, Informatika, Aplikasi dan Informatika Provinsi Sulawesi Tengah melalui Bidang Aplikasi dan Informatika (Aptika) terus berupaya melakukan peningkatan terkait Indeks SPBE di Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2022, Rabu (18/10/2022).

Kolaborasi perguruan tinggi merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh Bidang Aptika dalam meningkatkan penyusunan dokumen seminar dengan melibatkan arsitektur SPBE dan peta rencana SPBE. Sampai dengan saat ini, Dinas Kominfo masih tetap memfasilitasi OPD-OPD dilingkungan Provinsi Sulawesi Tengah mengadakan rapat secara Virtual melalui Via Zoom Meeting.

Dengan demikian, Kepala Dinas Kominfo Provinsi Sulawesi Tengah Dra. Novalina MM, telah memberikan kebijakan bahwa bagi OPD terkait Virtual Zoom masih dilakukan secara terbatas, yang mana Virtual Zoom ini lebih mengarah ke pimpinan seperti ; Gubernur, Wakil Gubernur dan Pj. Sekertaris Daerah.

Berdasarkan Peraturan Gubernur No. 34 Tahun 2009 menjelaskan bahwa semua pembuatan aplikasi-aplikasi asitensi ada di bidang aplikasi dan informatika. dan sekarang pengembangan aplikasi telah berjalan di OPD-OPD. Namun, pengembangan aplikasi itu ditolak dikarenakan aplikasi umum, karena adanya moratorium dari Kemenpan ke Kominfo terkait aplikasi tersebut begitu juga dengan aplikasi kepegawaian itu sudah dianggarkan oleh pusat dan tidak lagi secara masing-masing tetapi semuanya terpusat.

Kepala Seksi Pengembangan Aplikasi Diskominfo Mohamad Affan ST., M.Eng mengatakan, saat ini, Aptika sedang menyusun juknis prefilec yang dilakukan di 3 (tiga) Kabupaten yaitu ; Donggala, Sigi dan Parigi Moutong terkait visi misi Gubernur dan Wakil Gubernur mengenai Viber Keuangan Daerah yang berkaitan dengan Desa digital.

Adapun kendala yang dialami yaitu ; masalah Sumber Daya Manusia (SDM) yang kurang sesuai dengan tenaga ahli dibidang ini. Olehnya, dibutuhkan kecakapan para pengelola-pengelola SPBE itu seharusnya lebih bisa terupdate serta sumber daya yang ada dapat mencukupi.

“Dukungan anggaran masih sangat rendah karena banyaknya tugas-tugas ini menjadi tak sebanding,” ucap Mohamad Affan selaku Kepala Seksi Pengembangan Aplikasi.

Hingga saat ini, Bidang Aptika memiliki tenaga honorer sebanyak 2 orang yang ditempatkan dibagian jaringan dan aplikasi, sedangkan dari Aptika luar daerah seperti ; Denpasar, Bali yang memiliki tenaga honorer sebanyak 50 orang. Sehingga ini juga yang menyebabkan inovasi-inovasi yang ada menjadi terbatas.

“Sumber daya, anggaran, serta infrastruktur menjadi kendala terbesar yang dialami oleh kami,” tambah Affan. (JT/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *