Kepala DLH Sulteng Dorong Biogas Terintegrasi untuk Perkuat ProKlim

AyoTau, Yogyakarta – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah terus memperkuat aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim melalui pengembangan energi terbarukan berbasis masyarakat.

Salah satu langkah yang tengah dimatangkan yakni pembangunan biogas terintegrasi dalam sistem pertanian inklusif berbasis masyarakat untuk memperkuat lokasi Program Kampung Iklim (ProKlim).

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Sulawesi Tengah, Wahid Irawan, bersama tim melakukan konsultasi perencanaan teknis di Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (9/7/2026).

Konsultasi dilakukan bersama Institut Teknologi Yogyakarta (ITY) yang memiliki pengalaman dalam pengembangan dan pengelolaan teknologi biogas.

Wahid Irawan mengatakan, konsultasi tersebut penting untuk memastikan pembangunan biogas di lokasi ProKlim nantinya memiliki perencanaan yang matang dan dapat diterapkan sesuai kondisi masyarakat serta karakteristik wilayah.

Menurutnya, aspek yang perlu dipersiapkan tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga pembiayaan, tata kelola operasional dan kesiapan masyarakat sebagai penerima manfaat.

“Pengembangan biogas harus direncanakan secara matang, mulai dari aspek teknis, pembiayaan, pengelolaan hingga kesiapan masyarakat. Sistem yang dibangun harus dapat memberikan manfaat dan berkelanjutan,” kata Wahid dalam kegiatan tersebut.

Dalam rangkaian konsultasi, tim DLH Sulteng juga melakukan kunjungan lapangan ke lokasi binaan ITY. Kunjungan ini untuk melihat secara langsung penerapan teknologi biogas, termasuk tata kelola, operasional, potensi pengembangan serta tantangan yang dihadapi di lapangan.

Konsep yang dikembangkan mengintegrasikan sektor peternakan, pertanian pangan dan energi terbarukan dalam satu sistem yang saling berkaitan.

Kotoran ternak dapat diolah menjadi biogas sebagai sumber energi. Sementara hasil samping dari proses tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pupuk kompos organik untuk mendukung budidaya tanaman pangan dan pakan ternak.

Model tersebut dinilai dapat menciptakan sistem pertanian yang lebih efisien sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Wahid menegaskan, pengembangan biogas juga diarahkan untuk mendukung upaya pengurangan emisi gas rumah kaca di Sulawesi Tengah.

Selain aspek lingkungan, program tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan serta meningkatkan kemandirian masyarakat dalam pemanfaatan energi terbarukan.

“Harapannya, perencanaan yang disusun nantinya benar-benar sesuai dengan kondisi sosial dan geografis lokasi ProKlim, sehingga program dapat berjalan efektif dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat,” ujarnya.

Melalui konsultasi ini, DLH Sulteng menargetkan tersusunnya perencanaan teknis dan penganggaran yang lebih matang, adaptif serta sesuai dengan kebutuhan masing-masing lokasi.(*)