Guru di Tatanga Petik Pelajaran Kepemimpinan dari Kundapil Bunda Wiwik

AyoTau, Palu — Kunjungan daerah pemilihan (kundapil) Ketua Fraksi PKS DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Hj. Wiwik Jumatul Rofi’ah, di Kecamatan Tatanga, Kota Palu, Kamis (29/10/2026), tidak hanya menjadi ruang penyampaian aspirasi dan informasi kedewanan. Kegiatan tersebut juga meninggalkan pesan tentang kepemimpinan, nilai keagamaan, dan tanggung jawab pelayanan kepada masyarakat.

Hal itu dirasakan salah seorang guru yang mengikuti kegiatan tersebut. Dalam kesan tertulisnya, ia mengungkapkan bahwa materi yang disampaikan legislator yang akrab disapa Bunda Wiwik itu memberikan pemahaman lebih luas mengenai hubungan antara jabatan, nilai-nilai keislaman, dan kebermanfaatan bagi sesama.

“Beliau tidak hanya menyalurkan dana hibah, tapi juga menitipkan ilmu kepemimpinan yang sangat dalam,” tulisnya.

Dalam pertemuan tersebut, Bunda Wiwik memaparkan tugas, fungsi, dan kewenangan anggota DPRD, termasuk berbagai advokasi yang dilakukan Fraksi PKS dalam mengawal regulasi di Sulawesi Tengah.

Materi yang disampaikan meliputi isu ketahanan keluarga, pembahasan isu LGBT dalam konteks regulasi daerah, serta berbagai kebijakan yang diarahkan untuk kepentingan masyarakat.

Dalam pembahasan peraturan daerah tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), Bunda Wiwik juga menekankan pentingnya memastikan setiap alokasi anggaran benar-benar diarahkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Penjelasan tersebut memberikan gambaran kepada peserta mengenai tanggung jawab anggota legislatif dalam memperjuangkan kebijakan dan mengawal penggunaan anggaran publik.

Namun, bagi guru tersebut, salah satu pesan yang paling membekas justru berkaitan dengan Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan.

Ia merefleksikan hubungan antara permohonan petunjuk dalam Surah Al-Fatihah ayat 6 dengan penegasan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi orang-orang bertakwa dalam Surah Al-Baqarah ayat 2.

Refleksi itu membuatnya mengevaluasi kebiasaan dalam mencari jawaban ketika menghadapi persoalan pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari. Menurutnya, selama ini seseorang bisa begitu aktif membaca buku dan informasi di berbagai grup percakapan, tetapi terkadang kurang memberi perhatian pada Al-Qur’an.

“Kita rajin baca buku, rajin baca grup WA, tapi lupa membaca Al-Qur’an sebagai sumber solusi,” tulisnya.

Pesan lainnya yang ia petik adalah makna kepemimpinan sebagai tanggung jawab untuk memberikan kemudahan dan manfaat bagi orang lain. Jabatan bukan sekadar kedudukan, melainkan sarana untuk melayani dan menghadirkan kebaikan.

“Dari sini saya belajar, pemimpin itu bukan untuk gagah-gagahan. Jabatan itu adalah alat untuk memudahkan orang lain dapat kebaikan,” ungkapnya.

Ia berharap nilai-nilai pelayanan tersebut dapat terus menjadi bagian dari pelaksanaan tugas para wakil rakyat, sehingga aktivitas politik dan kewenangan yang dimiliki benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Politik yang berangkat dari doa, pulang membawa manfaat untuk umat,” tulisnya. (*)