AyoTau, Palu – Ketua Fraksi PKS DPRD Sulawesi Tengah, Hj Wiwik Jumatul Rofi’ah, memaparkan berbagai tantangan yang dihadapi perempuan untuk terjun ke dunia politik praktis, khususnya pasca keputusan Mahkamah Konstitusi terkait pemisahan pemilu.
Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan talk show yang digelar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sulawesi Tengah, Kamis (16 April 2026).
Dalam pemaparannya, yang akrab disapa Bunda Wiwik itu menekankan bahwa pendidikan politik memegang peran penting dalam membangun demokrasi yang sehat.
“Peran pendidikan politik bukan sekadar memberi tahu tentang pemilu, tetapi membentuk cara berpikir, sikap, dan karakter dalam bernegara. Ia adalah jantung dari demokrasi yang sehat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pendidikan politik memiliki sejumlah fungsi strategis. Pertama, membangun kesadaran masyarakat sebagai warga negara. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang mengikuti pemilu tanpa memahami maknanya secara utuh.
Kedua, melahirkan pemilih yang cerdas dan kritis. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh politik uang, janji kosong, maupun pencitraan semata.
“Di sinilah kualitas demokrasi ditentukan—bukan dari banyaknya pemilih, tetapi dari kualitas pilihan,” jelasnya.
Ketiga, pendidikan politik menjadi benteng melawan pragmatisme politik. Ia menilai praktik transaksional kerap terjadi karena rendahnya pemahaman masyarakat.
Keempat, mendorong partisipasi publik yang sehat, tidak hanya saat pemungutan suara, tetapi juga dalam pengawasan dan penyampaian aspirasi.
Kelima, membuka ruang bagi kelompok yang selama ini terpinggirkan, termasuk perempuan. Menurutnya, pendidikan politik mampu mendorong perempuan lebih berani dan siap terlibat sebagai pemimpin maupun pemilih kritis.
“Ini penting agar kebijakan yang lahir benar-benar mewakili seluruh lapisan masyarakat,” katanya.
Selain itu, pendidikan politik juga berperan menanamkan etika dan nilai dalam berpolitik agar kekuasaan tidak disalahgunakan untuk kepentingan pribadi atau kelompok.
Meski demikian, Bunda Wiwik mengakui bahwa tantangan terbesar saat ini adalah belum meratanya pendidikan politik di masyarakat. Ia menilai pendidikan politik masih bersifat musiman dan belum menjadi proses berkelanjutan.
Karena itu, ia mendorong agar pendidikan politik dihadirkan di berbagai ruang, mulai dari sekolah, keluarga, organisasi, hingga media sosial.
“Jika kita ingin politik yang bersih, adil, dan bermartabat, maka investasi terbesarnya adalah pendidikan politik. Karena pemilu yang baik lahir dari rakyat yang paham,” tandasnya. (*)












