Jalan Terjal dan Berliku Hadang Gubernur Terpilih

  • Oleh Hasanuddin Atjo*

Jumat pagi, 11 Desember 2020, berkesempatan ke Parigi Moutong, melakukan supervisi tambak udang yang lagi menjadi salah satu pilihan investasi papan atas oleh sejumlah pengusaha, terutama dari luar Sulawesi Tengah.

Poros Tawaili, kota Palu dan Toboli, Parigi Moutong statusnya jalan nasional, dengan panjang 42 km. Poros ini sangat strategis karena penghubung utama wilayah yang ada di selat Makassar dengan yang ada di wilayah di teluk Tomini dan teluk Tolo.

Poros ini separuh mendaki, separuh menurun, dan berkelok. Di sisi kiri adalah jurang dan kanan dinding bukit, namun banyak pengguna jalan merasa senang melaluinya dan menikmatinya . Presiden RI, Jokowipun usai meresmikan Sail Tomini tahun 2014, kembali ke Palu, melintasi poros itu.

Ini antara lain karena panoramanya indah, kondisi jalan terawat dengan baik dan mantap. Ditambah lagi hiburan sejumlah monyet sekitar hutan menunggu diberi makanan oleh pengguna jalan yang lewat. Dan hanya perlu waktu sekitar 60 – 70 menit melintasi perbukitan itu.

Karena jalan mulai menurun, sambil menikmati panorama di kiri dan kanan serta sejumlah kelokan, saya mengambil android untuk mengulas Pemilihan Kepala Daerah di Sulteng tahun 2020 yang hasilnya banyak membuat kejutan.

Pilkada serentak memilih kepala daerah telah usai dilaksanakan 9 Desember 2020. Hasil quick count sejumlah lembaga survey secara umum juga diselesaikan di hari itu.

Sejumlah kepala daerah Petahana banyak yang tumbang dikalahkan oleh pendatang baru.

Prediksi, banyak meleset. “Money politik” sudah kurang mempan, dan masyarakat mulai cerdas dan ingin sebuah perubahan. Usia bukan lagi menjadi faktor pembatas, karena usia mudah maupun tua juga sama sama punya peluang terpilih.

Faktor pendidikan tinggi juga belum jadi jaminan. Dan menjadi penentu adalah, paslon mempunyai rekam jejak yang baik, antara lain memiliki rasa peduli yang tinggi, mau dan suka berkomunikasi, serta memiliki soft skill yang mumpuni.

Hasil quick count Pilgub Sulawesi Tengah, menempatkan pasangan Rusdi-Makmun sebagai pemenang dengan perolehan suara sebesar 60,29 persen, kalahkan pasangan Hidayat-Bartho yang memperoleh suara 39,71 persen, yang didukung oleh partai besar dan berkuasa.

Hasil ini sejalan dengan survei Poltracking Indonesia dan Charta Politika, yaitu sekitar 62 persen untuk Rusdi – Makmun dan marjin eror 2 persen. Perhitungan real count di KPU, saat ini sementara berlangsung, dan pengalaman menunjukkan umumnya hasil real count relatif sama dengan quick count.

Deklarasi kemenangan dari koalisi partai pengusung telah dilakukan di tanggal 9 Desember 2020 malam, di kantor pusat partai Nasdem Prov. Sulawesi Tengah. Dewan Pembina partai Nasdem, Achmad Ali, ketua tim koalisi, Nilamsari Lawira dan “Gubernur Terpilih” Rusdi Mastura. Hadir malam itu dan memberi sambutan

Inti dari deklarasi itu adalah ucapan terimakasih kepada masyarakat Sulteng yang telah memberi satu kepercayaan. Koalisi partai yang telah menggerakan mesin suara. Dan yang menarik dan perlu dicatat bahwa ketiganya mengingatkan bahwa: “Kita tidak boleh terjebak dengan eforia kemenangan, karena jalan terjal dan beriku menghadang kita”.

Jalan terjal dan berliku dimaksud, tentunya berkaitan dengan waktu yang singkat dari kepemimpinan kepala daerah hasil Pilkada 2020 yaitu hanya kurang lebih 3,5 tahun.

Ditambah lagi dengan danpak dari bencana alam multidampak 28 September 2018, wabah Pandemic Covid-19, tuntutan era digitalusasi dan bonus demografi Indonesia di tahun 2030 yang harus disiapkan skenarionya.

Selain itu, gubernur terpilih harus menyusun RPJMD 2021-2025 yang benar-benar bisa membawa keluar Sulteng dari perangkap kapasitas fiskal atau kemampuan belanja daerah yang buruk (peringkat 25), angka kemiskinan yang tinggi dua digit.

Demikian pula dengan persoalan ketimpangan pendapatan antar masyarakat dan antar wilayah yang jomplang. Ditambah lagi dengan angka stunting yang tinggi serta ancaman degradasi lingkungan akibat tata kelola tambang, hutan dan DAS yang tidak sesuai .

Dalam RPJMD, harus tergambar bagaimana desain pemanfaatan sektor-sektor yang harus menjadi lokomotif ekonomi seperti sektor pangan, pariwisata, tambang dan penataan lingkungan agar mampu mengurangi sejumlah masalah yang telah dusebutkan di atas.

Perhatian terhadap pengembangan infrastruktur, kesehatan maupun pendidikan sudah “given” karena menjadi salah satu modal utama untuk keluar dari ketirtinggalan menuju kemajuan. Tentunya arah pengembangan infrastruktur dan pendidikan diparalelkan dengan yang menjadi pilihan lokomotif ekonomi di Sulawesi Tengah. Tidak diharapkan kejadiannya lokomotif ke arah utara, sedang infrastruktur dan pendidikan ke arah selatan.

RPJMD Kab/Kota 2021-2025 harus in line dengan RPJMD Prov. 2021- 2025. Dan RPJMD Provinsi harus in line dengan RPJMN 2020-2024.

Ada lebih 100 janji Presiiden di saat penyampaian visi dan misi. Dan ini sudah termuat dalam RPJMN 2020 -2024. Diantaranya sebanyak 41 major project atau project prioritas di sejumlah kementrian/lembaga untuk dan dilaksanakan di daerah.

Karena itu harus segera dibuat di di Provinsi (Bappeda) bersama tim ahli Gubernur terpilih rancangan RPJMD Provinsi menyempurnakan rancangan teknokratik yang telah dibuat sebelumnya. Rancangan RPJMD Provinsi harus disegerakan, karena menjadi acuan kabupaten dan kota, termasuk untuk Rencana Kerja Pemerintah, RKP tahun 2022.

Jalan terjal dan berliku yang kedua adalah rekruitmen pejabat struktur yang menyusun dan merealisasikan acara baik yang menjadi muatan di RPJMD tahun 2021-2025. Ada dua cluster jabatan struktur berkaitan dengan hal itu.

Pertama terkait dengan gagasan dan narasi antara lain Bappeda, Bapenda dan BPKAD. Ketiganya sangat strategis karena berkaitan dengan Perencanaan dan kekuatan belanja daerah, serta tata kelola keuangan daerah. Kedua, adalah cluster terkait dengan eksekusi program pada lokomotif ekonomi dan penunjang termasuk urusan wajib dan pilihan.

Sekretaris Wilayah Daerah, memiliki peran strategis agar kedua cluster ini dapat berjalan secara simultan dalam satu gerakan yang harmoni. Dapat dianalogkan bahwa peran seorang Sekprov bagaikan kusir delman yang mengendalikan dua ekor ekor kudanya yang sedang menarik delman menuju satu tujuan. Kusir delman maupun dua ekor kudanya harus sehat, cerdas, dan kuat agar mampu bekerja sama dan kemudian bisa melewati jalan terjal dan berliku itu.

Jalan terjal dan berliku yang ketiga bahwa sudah tidak bisa lagi untuk dihindari, mau tidak mau dan suka tidak suka harus masuk kepada sistem perencanaan, kendali dan pengawasan berbasis digital. Dan ini menjadi salah satu tantangan berat untuk keluar dari sejumlah persoalan yang dihadapi daerah ini.

Terakhir, harapan masyarakat Sulawesi Tengah kiranya Gubernur dan wakil Gubernur terpilih sebagai “pemilik delman” bisa terus konsisten membangun komunikasi, memupuk kadar soft skill, merekrut “kusir delman dan

kuda yang sehat, cerdas dan kuat”, tidak alergi menggunakan teknologi digitalisasi, agar bisa melintasi jalan Terjal dan Berliku dengan selamat, gembira sampai di tujuan. Bagaikan melintasi Jalan Poros Tawaili-Toboli. SEMOGA.

*Penulis Mantan Birokrat Sulawesi Tengah

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *