AYOTAU, MORUT- Aty Landoala membantah pemberitaan yang mengaitkan harta kekayaannya dengan pengelolaan dana CSR di Desa Ganda-Ganda, Kecamatan Petasia, Kabupaten Morowali Utara.
Bantahan itu disampaikan Aty saat ditemui di kediamannya di kawasan jalur dua, Kelurahan Kolonodale, Kecamatan Petasia, Senin (8/9/2026).
Aty mengaku kecewa karena namanya disebut dalam pemberitaan yang sebelumnya beredar di media online dan media sosial. Menurutnya, pihak yang membuat pemberitaan tersebut belum pernah bertemu langsung dengannya.
“Kemarin itu posting akun mendia sosial. Saya sempat kecewa karena sudah sebut nama. Sementara dia belum pernah ketemu langsung dengan saya,” ujar Aty.
Ia menilai informasi yang disampaikan dalam pemberitaan tersebut hanya berdasarkan cerita sepihak. Terutama terkait harta yang disebut-sebut memiliki hubungan dengan dana CSR.
Aty menegaskan, sejumlah aset yang disebut dalam pemberitaan bukan berasal dari dana CSR. Menurut dia, beberapa aset tersebut bahkan sudah dimiliki sebelum dirinya ditunjuk sebagai pengurus dana CSR.
“Soal harta, kenapa diposting dan dibilang harta saya seakan-akan berkaitan dengan dana CSR. Padahal kos-kosan itu sudah ada sebelum saya pegang dana CSR,” katanya.
Aty juga menjelaskan sumber penghasilannya selama ini. Ia mengaku telah bekerja sebagai bendahara Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) selama lebih dari 10 tahun.
Selain itu, Aty menyebut pernah bekerja di PT COR selama kurang lebih 10 tahun. Ia juga mengaku menjalankan pekerjaan sebagai kontraktor dengan mengerjakan sejumlah proyek.
“Mobil, anak saya kerja. Saya juga kerja di TKBM sebagai bendahara sudah 10 tahun lebih. Saya pernah kerja di PT COR kurang lebih 10 tahun. Saya juga kontraktor,” jelasnya.
Karena itu, Aty keberatan jika penghasilan maupun aset yang dimilikinya dikaitkan dengan dana CSR.
“Kalau soal gaji di CSR mau dikaitkan dengan saya punya harta, saya tidak terima,” tegasnya.
Aty mengatakan, dirinya sempat memilih diam meski merasa keberatan dengan pemberitaan tersebut. Ia mengaku mendapat saran dari sejumlah rekannya untuk tidak memperkeruh suasana karena masih menunggu proses pelantikan.
Namun, menurutnya, pemberitaan mengenai dirinya justru kembali muncul sehingga dirinya memutuskan memberikan klarifikasi.
“Sebenarnya saya ingin bantah, cuma teman-teman bilang jangan dulu karena kita lagi menunggu pelantikan. Tidak boleh bikin onar. Jadi saya diam,” ungkapnya.
Aty juga menyoroti penyebutan namanya secara langsung dalam pemberitaan. Ia mengaku telah menyimpan tangkapan layar pemberitaan tersebut.
“Seandainya cuma mau sebut pengurus CSR, tapi ini langsung menyebut nama. Saya sudah screenshot,” katanya.
Terkait pengelolaan dana CSR, Aty menjelaskan pencairannya tidak dilakukan setiap bulan. Menurut dia, dalam satu tahun pencairan dapat dilakukan sekitar tiga hingga empat kali.
Ia menyebut dirinya mulai terlibat sebagai pengurus dana CSR sejak akhir 2023.
“Dana CSR itu kalau kita pencairan bukan tiap bulan. Dalam satu tahun ada tiga kali atau empat kali. Kita dari akhir 2023 sampai sekarang,” jelasnya.
Aty kembali menegaskan bahwa aset yang menjadi sorotan tidak berkaitan dengan dana CSR.
Ia meminta persoalan tersebut tidak dikaitkan begitu saja tanpa melihat sumber penghasilan dan riwayat pekerjaannya sebelum menjadi pengurus CSR.
“Yang saya bantah pertama masalah harta. Yang dia bilang ada mobil, rumah tiga. Saya bantah karena itu tidak ada hubungannya dengan dana CSR,” pungkasnya.(**)






