AyoTau, Palu – Meskipun pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah mencapai 7,95 persen dan menjadi tertinggi kedua nasional, provinsi ini masih menghadapi tantangan serius dalam mengendalikan inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi Sulteng sebesar 3,88 persen pada September 2025, menempatkannya dalam 10 besar provinsi dengan inflasi tertinggi di Indonesia.
Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa meski inflasi masih relatif tinggi, Indeks Perkembangan Harga (IPH) Sulawesi Tengah pada minggu keempat Oktober 2025 justru menunjukkan penurunan tertinggi nasional (-1,48 persen). Penurunan harga beras, bawang merah, dan cabai rawit menjadi faktor utama yang menekan angka inflasi di daerah ini.
Merespons data tersebut, Wakil Gubernur Sulawesi Tengah dr. Reny A. Lamadjido menekankan pentingnya sinergi antarinstansi untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok dan memperkuat ketahanan pangan daerah.
“Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah akan terus memantau perkembangan harga di lapangan dan memperkuat langkah pengendalian inflasi agar kesejahteraan masyarakat tetap terjaga,” ujar Wagub.
Upaya pengendalian inflasi ini juga melibatkan TPID, Bulog, BPS, dan Forkopimda untuk memastikan ketersediaan pasokan pangan dan mencegah gejolak harga menjelang akhir tahun.
Dengan koordinasi yang kuat, Pemprov Sulteng optimistis dapat menjaga stabilitas ekonomi dan memastikan harga kebutuhan pokok tetap terjangkau bagi masyarakat. (Win)







