Gunung Berapi di Touna Buat Kagum Wisatawan

Ayotau, Palu- Gunung berapi Ambu yang terletak di Pulau Tojo Una una (Touna) Provinsi Sulawesi Tengah, membuat kagum para pengunjungnya. Bagaiaman tidak menarik, suara gemuruh dari semburan kuat uap panas dari bawah tanah memenuhi area kawah yang lebarnya sekitar 30 hingga 50 meter, membuat para wisatawan penasaran.

Kepala Bidang Pengembangan Pemasaran Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah, Nurhalis M Lauselang, saat membawa tamu dari luar daerah yakni dua orang dari Jakarta dan dua orang lagi dari Eropa, dengan tujuan utama mereka diving di Pulau Touna, membuat mereka untuk mengunjungi gunung berapi tersebut.

Menurut Nurhalis, letusan gunung Colo di Pulau Touna Provinsi Sulteng pada tahun 1983, dengan memaksa penduduk delapan desa di pulau itu harus keluar dan menetap di tempat lain. Beberapa tahun sesudahnya, ada sejumlah keluarga yang kebanyakan petani kembali untuk berkebun.

“Kemudian sekitar 5 tahun lalu resort berdiri dan memulai usaha pariwisata, jualan utamanya adalah Diving, di Kepulauan Togean, diving adalah hal yang lumrah. Apa yang dapat dilakukan di sela-sela jadwal diving itu sangat banyak, mulai dari belajar memasak masakan lokal, jalan-jalan di pemukiman warga setempat, dan tracking,” kata Nurhalis, melalui ponselnya, Jumat, 20 November 2020.

Akan tetapi, Nurhalis mengatakan, di pulau Touna, tracking ke gunung berapi Ambu menjadikan pengalaman berwisata di Kepulauan Togean menjadi hal yang luar biasa.

“Gunung berapi Ambu, sepertinya semacam anak dari gunung Colo. Ironisnya, saat gunung Colo sedang adem, gunung Ambu memperlihatkan gairahnya,” ujarnya.

Kata Nurhalis, jika mengunjungi gunung Colo, para wisatawan hanya akan melihat hamparan kawah yang tidak memperlihatkan aktivitas apa-apa. Namun berbeda halnya jika mengunjungi gunung Ambu, di kawah gunung itu terdengar desingan bergemuruh.

“Fantastis ada puluhan titik semburan mulai dari yang besarnya beberapa sentimeter sampai yang puluhan sentimeter, ditambah lagi dengan ratusan titik yang terlihat mendidih. Untuk mencapai kawah gunung Ambu, tidaklah sulit, sepanjang kita memiliki jiwa petualang, pasti akan tiba di kawah dengan mudah, serta perjalanannya tak sampai membuat napas ngos-ngosan (kecapean),” katanya.

Perjalanannya kata Nurhalis, dimulai dengan sepeda motor melalui bekas jalan desa, kemudian masih dengan sepeda motor menyusuri tepi pantai yang indah, sepanjang beberapa kilo meter dan dasar sungai yang kering.

“Perjalanan dengan berjalan kaki (tracking) kemudian harus dilakukan ketika medan sungai tidak dapat lagi dilalui dengan sepeda motor bebek meski beroda khusus trail. Tracking menyusuri sungai yang airnya hangat sampai panas, semakin menarik ketika jalur sungai mulai sempit, ada satu titik dimana pengunjung harus memanjat tebing batu yang sangat mudah dilakukan,” ujarnya.

Kata dia, jalur sungai yang semakin sempit pertanda kawah semakin dekat. Pengunjung akan melihat uap yang membumbung menyerupai kabut awan dari balik bukit kawah. Air sungai pun akan semakin panas.

“Ketika mendekati kawah, suara gemuruh itu mulai terdengar, ada sedikit rasa was-was ketika pertama kali melihat titik semburan pertama dan mendengar suara gemuruh dari arah kawah. Akan tetapi rasa was-was itu berkurang dan hilang setelah berada di area kawah. Duduk melepas lelah di bagian yang tinggi di sekitar kawah sambil menyaksikan pemandangan di dalam kawah sungguh suatu pengalaman yang spektakuler,” ungkapnya.

“Tamu yang bersama kami bukan wisatawan pertama, tapi telah ada ratusan turis yang telah sampai ke kawah ini. Paket tracking ini terbilang murah Rp200 ribu perorang, sudah bisa sampai ke kawah. Tak disangka setelah beberapa puluh tahun ditinggalkan, pulau Touna kita menjadi sangat menarik bagi wisatawan,” katanya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed