AyoTau, Jakarta — Tiga anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD Provinsi Sulawesi Tengah mengikuti Sarasehan Anggota Legislatif Perempuan PKS di Jakarta, Senin (19/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Bimbingan Teknis Nasional (Bimteknas) PKS 2026 yang berlangsung pada 19–20 Oktober 2026.
Ketiga legislator perempuan tersebut yakni Ketua Fraksi PKS DPRD Sulteng, Hj. Wiwik Jumatul Rofi’ah, Sri Atun, dan Dra. Hj. Fatimah Amin Lasawedi.
Wiwik mengatakan, sarasehan tersebut bertujuan memperkuat kepemimpinan perempuan di ruang publik melalui peningkatan kapasitas, integritas, serta kerja politik yang berkelanjutan dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.
“Peningkatan keterwakilan perempuan di parlemen harus berjalan seiring dengan kualitas kepemimpinan dan kontribusi nyata terhadap pembangunan,” kata Wiwik, mengutip pemaparan narasumber, Reni Astuti, anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKS.
Dalam sarasehan tersebut, Reni menyoroti kesenjangan antara jumlah penduduk perempuan dan keterwakilannya di lembaga legislatif. Berdasarkan data yang disampaikan, keterwakilan perempuan di DPR RI periode 2024–2029 mencapai sekitar 21,9 persen atau 127 dari total 580 anggota.
“Kalau tadi secara populasi kita hampir separuh dari totalitas penduduk Indonesia, secara kursi kita di parlemen kita masih seperlima. Kita ini separuh populasi, tapi jumlahnya masih di seperlima,” ujar Reni.
Menurutnya, peningkatan keterwakilan perempuan tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan afirmasi. Legislator perempuan juga perlu membangun kepercayaan publik melalui kompetensi, kinerja, dan kedekatan dengan masyarakat.
Keberhasilan menjalankan amanah sebagai wakil rakyat, lanjutnya, turut menentukan kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan perempuan di masa mendatang.
Wiwik juga menekankan pentingnya kepemimpinan adaptif dalam menghadapi perubahan sosial dan dinamika politik. Merujuk pada kajian akademiknya tentang dynamic transactional leadership, ia menjelaskan bahwa kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan kapasitas individu, tetapi juga kemampuan mengembangkan diri, membangun hubungan timbal balik, dan menyesuaikan pendekatan dengan perubahan situasi.
“Sesungguhnya bicara tentang kepemimpinan itu ternyata tidak hanya bicara tentang kapasitas diri kita, tetapi tentang bagaimana dia mengembangkan kapasitasnya itu. Karena medan berubah, situasi berubah, kadang kondisi sosial juga berubah,” ujarnya, mengutip penjelasan Reni.
Dalam perjuangan politik, Reni juga mengingatkan bahwa keterbatasan sumber daya finansial tidak seharusnya menjadi penghalang bagi perempuan untuk mengembangkan kepemimpinan.
Karena itu, para legislator perempuan didorong membangun investasi sosial jangka panjang melalui pelayanan kepada masyarakat, perluasan jejaring, dan interaksi yang demokratis. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk membangun kepercayaan publik yang tidak semata-mata bertumpu pada kekuatan modal.
Sarasehan tersebut turut membahas berbagai tantangan yang dihadapi perempuan dalam kepemimpinan publik, mulai dari pembagian peran keluarga dan pekerjaan, stigma terhadap kemampuan perempuan, keterbatasan akses modal dan jejaring, hingga kekerasan serta serangan di ruang digital.
Reni menegaskan pentingnya membuktikan kapasitas perempuan melalui kinerja dan kontribusi nyata, sekaligus memperkuat dukungan lingkungan dan solidaritas antarpemimpin perempuan.
“Stigma dan stereotip kadang dianggap, ‘Ah, perempuan enggak bisa. Paling politisi perempuan bisanya cuma ngeramein.’ Nah, kita tunjukkan bahwa kita punya kapasitas,” tegasnya.
Selain penguatan kepemimpinan, legislator perempuan juga diingatkan agar tetap memberikan perhatian terhadap persoalan mendasar yang dihadapi keluarga dan anak.
Perlindungan anak, akses pendidikan dan kesehatan, penguatan karakter, serta pencegahan kekerasan dan perundungan dinilai perlu menjadi perhatian bersama, terlepas dari komisi maupun bidang tugas masing-masing legislator.
“Apapun komisi kita, apapun sektor yang kita geluti, tapi ini adalah sesuatu yang harus kita sentuh sebagai aleg perempuan,” ujarnya. (*)












